Selamat Atas Peluncuran Majalah Online GERMASI "IDEALIS", Terbit Tanggal 5 Setiap Bulan. Jangan Sampai Ketinggalan

Friday, September 17, 2010

Syukran-Juneidi Layak Pimpin Tapteng

Jumat, 17 September 2010
TAPTENG-METRO; Setelah Dina Riana br Samosir resmi berpasangan dengan Drs Hikmal Batubara sebagai balon Bupati dan wakil Bupati Tapteng pada Pemilukada Tapteng 12 Maret 2011, H Juneidi Tanjung MPd yang sempat disebut berpaket dengan Dina Riana, belakangan dianggap layak berpasangan dengan H Syukran J Tanjung SE sehingga akan menjadi paket duo Tanjung. 

Hal tersebut sampaikan Ketua Gerakan Mahasiswa Sibolga, Samsul Pasaribu yang juga putra Barus kelahiran Sibolga kepada METRO di Sibolga, Kamis (16/9).
Menurut Samsul, saat ini semua kandidat yang maju dinilai bukan orang sembarangan dan sarat dengan prestasi dan dedikasi. Apalagi beberapa diantaranya adalah orang-orang kuat dan dekat dengan penguasa saat ini.
"Jika, hitungannya dukungan financial bisa ditebak pemenang pemilukada yang akan datang, namun karena kedaulatan ada di tangan rakyat dan rakyat dewasa ini juga sudah pintar dalam menghargai dan menggunakan hak pilihnya, maka sebesar apa pun cost yang dikeluarkan oleh seorang kandidat hanya akan dikalikan dengan nol, apabila tidak mendapat simpati dari calon konstituen," katanya.

Sunday, August 15, 2010

Meramal Pidato LPJ Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Tahun 2014

MERAMAL PIDATO LPJ PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO PADA TAHUN 2014
Oleh ; Syamsul Pasaribu
Presiden Mahasiswa Ikopin- Bandung

Bukan sok ingin menjadi penerus mama laurent atau nompang tenar seperti Jojo dan Shinta, namun judul diatas ditujukan dari wacana yang berkembang beberapa hari belakangann ini baik di media cetak maupun elektronik. Wacana itu diantaranya adalah rencana redominasi mata uang Rupiah yang konon katanya sudah diwacanakan sejak lima tahun yang lalu.
Presiden SBY di Paripurna MPR/ DPR RI

Pembaca mungkin bertanya, lalu apa korelasinya dengan LPJ Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada akhir masa jabatannya nanti di tahun 2014? Jawabannya mudah, seperti yang telah kita ketahui bersama politik pencitraan yang dibangun presiden RI ke-6 itu diperuntukkan bagi masyarakat ekonomi menengah kebawah yang notabenenya tidak mau ambil pusing dengan segala pertikaian yang ada di tingkat elite politik. Sekisruh apa pun sidang angket kasus bank century, berapa pun banyaknya uang gayus di rekening ajaibnya, bagi rakyat kecil yang menjadi sasaran tembak pencitraan SBY (baca: orang-orang miskin) tidak begitu menjadi persoalan.

Tuesday, July 6, 2010

Satu lagi catatan hitam Kepolisian


Kemajuan teknologi yang juga berdampak pada fasilitas komunikasi memberikan kemudahan bagi manusia sebagai makhluk konsumerisme. Jarak yang ribuan mil bisa terkesampingkan dengan teknologi komunikasi saat ini. Khususnya internet atau yang lebih dikenal dengan jejaring sosial seperti facebook, twitter dan lain-lain. Namun seiring dengan berjalannya waktu pengunaan jejaring sosial tadi mulai disalahgunakan menjadi alat untuk menghina, memaki, mempojokkan serta beberapa tindakan melanggar norma lainnya.

Kalau Luna Maya di twitternya pernah mengatakan infoteiment sama dengan pelacur, mendapatkan kritikan tajam dari sejumlah kalangan. Kali ini salah seorang oknum polisi berinisial AG menulis dalam facebooknya “ masyarakat sibolga lemah lawan kami dan takut..masyarakat ini bodoh..gak ada nyali..ckckckck...sibolga bodoh “. Hal tersebut merupakan penyalahgunaan media internet sehingga memancing amarah dari segenap masyarakat sibolga pengguna facebook, sebab komentar tersebut dianggap meprovokasi perpecahan di Kota sibolga yang sudah kembali tentram pasca kericuhan pemilukada yang lalu. Peryataan yang dia tuliskan tersebut tidak didasari oleh hal yang jelas. Sehingga bisa membuat permasalahan baru, itu terbukti dari sejumlah komentar yang muncul menanggapi peryataan tersebut. Bahkan membuat pertengkaran di facebook tersebut yang bahkan tidak menyelesaikan masalah. Seharusnya jika ada permasalahan yang cukup serius seperti hal tersebut semestinya tidak diselesaikan di dunia maya. Karena komunikasi yang terbangun pada akhirnya bukan menyelesaikan permasalahan, sebab kalimat yang tertuliskan bisa salah arti ketika dibaca dengan intonasi yang tidak sesuai dengan apa maksud penulisnya.
Perilaku oknum polisi tersebut menambah daftar catatan hitam kepolisian dimata masyarakat, apalagi jika dikaitkan dengan sejumlah nama perwira polisi bermasalah disebabkan memiliki rekening triliyunan rupiah yang baru-baru ini diberitakan di majalah Tempo. Polisi merupakan masyarakat sipil yang dipersenjatai guna melindungi, melayani dan mengayomi masyarakat menjadi semboyan semata sebab kenyataannya dilapangan mayoritas polisi tidak mampu  melaksanakan hal tersebut. Lontaran kalimat oknum polisi yang cukup arogan tersebut seharusnya tidak keluar sebab sebagai aparat penegak hukum harusnya memberikan contoh yang baik dalam bertindak terutama dalam hal penggunaan media internet yang belakanagan ini kerap menjerat seseorang keranah hukum karena tidak paham akan UU ITE.

Kejadian seperti itu seharunya menjadi cambuk bagi institusi polisi agar setiap calon polisi merupakan orang-orang yang baik moralnya dan jika sudah terjadi sebaiknya oknum polisi tersebut diberikan terapi khusus pendidikan moral.

Friday, April 23, 2010

Hinakah seorang demonstran???

Wahai kalian yang rindu kemenangan,
Wahai kalian yang turun kejalan,
Demi mempersembahkan jiwa dan raga,
Untuk negeri tercinta.

Itulah sepengal syair lagu yang sering dinyanyikan pada saat melakukan demonstrasi. Demonstrasi/unjuk rasa adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih untuk mengutarakan pemikiran dengan lisan atau tulisan dimuka umum. Demonstran adalah orang yang ikut dalam demonstrasi/unjuk rasa.

Menjadi seorang demonstran kerap mendapatkan cibiran. Apalagi ketika demonstran tersebut adalah mahasiswa. Memang belakangan ini cap demonstran kerap dipegang oleh mahasiswa. Padahal berdemonstrasi merupakan hak semua orang. Cibiran-cibiran yang dilontarkan disebabkan adanya pemikiran bahwa mahasiswa yang ikut demonstrasi tersebut adalah orang-orang yang tidak beres. Hal ini disebabkan ada banyak mahasiswa yang "mengaku" demonstran terlambat menyelesaikan studinya, bahkan harus D.O akibat telah melewati batas waktu yang ditentukan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan. Cara berpakaian mahasiswa tersebut juga biasanya acak-acakan. Akibat hal tersebut mahasiswa lainnya enggan untuk berteman dengan mahasiswa tersebut. Masyarakat juga terkadang tidak suka dengan seorang demonstran karena pada saat pelaksanaan demonstrasi kerap berefek kepada kondisi sosial yang membuat masyarakat merasa dirugikan, seperti kemacetan akibat demonstrasi.

Padahal efek negatif yang seolah-olah muncul dari demonstran tadi sebenarnya bukanlah akibat dari berdemonstrasi. Mahasiswa yang terlambat menyelesaikan studi dan berpakaian acak-acakan disebabkan oleh perilaku personal mahasiswa tersebut dan efek sosial pada masyarakat datangnya dari masyarakat itu sendiri, kemacetan bukan karena demonstrasinya tapi akibat banyaknya kendaraan tidak seimbang dengan jumlah jalan yang ada.

Menjadi seorang demonstran tidaklah gampang, sebab seorang demonstran bukanlah seorang yang selalu hanya ikut pada saat demonstrasi. Karena kalau hanya ikut pada saat demonstrasi belum bisa disebut seorang demonstran tapi hanya simpatisan. Seorang demonstran adalah orang yang sejak awal telah sadar akan sesuatu hal dan mencoba mendiskusikan dengan beberapa orang sadar lainnya dan mereka menyimpulkan adanya kesalahan yang perlu diutarakan melalui lisan ataupun tulisan. Setelah menyadari adanya kesalahan,
orang-orang tadi mencoba menginventarisasi kesalahan-kesalahan tersebut (tabulasi isu) sehingga menemukan pokok permasalahan (isu pokok) yang harus di utarakan. Untuk mengutarakan isu tersebut diperlukan sebuah kegiatan dalam bentuk aksi. Beberapa bentuk aksi adalah aksi selebaran, aksi spanduk, aksi delegasi, aksi mogok, aksi turun jalan/demonstrasi. Sebelum pelaksanaan aksi demonstrasi yang melibatkan massa perlu cara bagaimana mengorganisir massa melalui manajamen aksi/struktur aksi.barulah kegiatan demonstrasi di berlangsungkan.

Titik tolak keberhasilan sebuah aksi bukan pada perubahan Kebijakan seketika dari suatu isu pokok yang digusung, namun pada isu yang diutarakan, ketika isu yang diutarakan telah sampai kepada penentu kebijakan dan telah membuka serta mencerahkan pemikiran masyarakat atau bahkan telah menimbulkan reaksi dari kelompok yang seide dan juga yang tidak seide maka aksi tersebut telah berhasil.

Ketika tahapan tadi telah dikerjakan seseorang patutlah dia disebut seorang demonstran. Namun apakah seorang demonstran itu hina???
Jawabannya tidak!!! Sebab seorang demonstran adalah orang yang memiliki nilai intelektualitas yang tinggi hal ini dapat dilihat melalui tahapan yang harus dikerjakan untuk melaksanakan demonstrasi. Apalagi ketika seorang demonstran akan mensosialisasikan isu yang akan diusung kepada massa aksi yang belum "tersadarkan" maka demonstran tersebut harus mengali sebanyak-banyaknya pengetahuan tentang isu yang diusung sehingga argumen-argumen yang mendukung maupun anti tesis dari isu dapat menjadi bahan dalam penyadaran massa. Oleh karena itu cap buruk seperti mahasiswa bandel, bodoh, tidak karuan adalah cap yang salah bagi seorang mahasiswa demonstran.

Berdemonstrasi adalah jalan terakhir untuk memperjuangkan gagasan/ide, sepanjang berdemonstrasi itu akibat kesadaran maka tak hinalah berdemonstrasi.