Selamat Atas Peluncuran Majalah Online GERMASI "IDEALIS", Terbit Tanggal 5 Setiap Bulan. Jangan Sampai Ketinggalan
Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Saturday, April 13, 2013

Kekuatan Dalam Kelemahan

Kelemahan itu adalah sumber dari kekuatan. Kelemahan itu akan jadi kekuatan apabila saya atau anda mampu untuk melawannya dan tidak menjadikan kelemahan itu melemahkan anda.Banyak diantara kita menjadikan kelemahan itu adalah sesuatu yang melemahkan.Merasa minder, kurang PD (percaya diri),merendah  diri dihadapan orang... lain. Dan akhirnya tidak mau berusaha untuk menjadi lebih baik, mudah menyerah atau putus asa, selalu merasa sendiri, dan lainnya.Sikap-sikap demikianlah yang disebut sikap yang menghancurkan diri sendiri, menyuramkan masa depan, dan menjadikan hidup tidak akan pernah maju.Di beberapa media, baik itu TV, majalah, koran, serta media-media lainnya, telah banyak menayangkan dan memberitakan orang-orang yang lemah akan fisik dan mentalnya, yang mereka-mereka itu adalah orang-orang yang sukses.Mereka sukses karena mereka tidak menjadikan kelemahan menjadi sesuatu yang melemahkan mereka. mereka menjadikan kelemahan mereka sebagai sebuah kekuatan di dalam diri dan kehidupan mereka.Beberapa deretan nama-nama yang berhasil kuat dan sukses berkat kelemahan mereka adalah:

Tuesday, November 27, 2012

Pancasila atau Pancasila

Oleh : Irfan Arhamsyah Sihotang
Irfan Arhamsyah S
Katanya, Negara Indonesia adalah sebuah negara yang nilai-nilai luhurnya sangat tinggi bahkan digembar-gembotkan sebagai ikon keidealan sebuah tata etika peradaban dunia. Benarkah? Sangat sulit untuk menjawab pertanyaan ini, karena memang selalu ada inisiatif kecil kita untuk tidak tega dengan begitu mudahnya memberikan kredit buruk untuk tanah air kita, kita pasti selalu mencari celah untuk membela. Kalau pertanyaan ini ditujukan kepada Saya, Saya akan bilang bahwa Indonesia itu masih bercita-cita untuk mengaplikasikan etika yang baik, jadi masih belum bisa dinilai secara kongkrit tentang baik dan buruknya.*jawaban ngeles….

Tuesday, October 23, 2012

FOBIA ALA PENGUASA


Oleh : Samsul Pasaribu*

Anda Fobia terhadap sesuatu? Tidak usah khawatir karena tulisan kali ini tidak bercerita tentang rasa ketakutan pembaca terhadap tikus, nenas, pisang, pintu, lift atau apa pun itu. Kali ini penulis hanya ingin berbagi informasi perihal Fobia yang belakangan ini sering mengidap para penguasa kita. Apa itu? Fobia terhadap kritik.

Sebelum kita berbicara tentang benang merah antara fobia, kritik dan penguasa ada baiknya penulis menjelaskan lebih dahulu apa itu Fobia. Dalam Wikifedia dijelaskan bahwa Fobia (gangguan anxietas fobik) adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap Fobia sulit dimengerti. Itu sebabnya, pengidap tersebut sering dijadikan bulan bulanan oleh teman sekitarnya.
Ada perbedaan "bahasa" antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat, dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara di bayangan mental seorang pengidap fobia subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan.

Dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek Fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan dimana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidak-mampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Penyebab lain terjadinya fiksasi dapat pula disebabkan oleh suatu keadaan yang sangat ekstrem seperti trauma bom, terjebak lift, dikritik terus menerus (red) dan sebagainya.

Wednesday, May 9, 2012

SYARFI DAN BONARAN. SERUPA TAPI TAK SAMA


Oleh : Samsul Pasaribu*
Benar kata orang. Bagaimana pun miripnya wajah seseorang (baca : kembar indentik) selalu ada saja ada yang membedakan keduanya. Fenomena  inilah yang menjadikan istilah serupa tapi tak sama menjadi hal yang wajar-wajar saja dalam dinamika kehidupan kita. Tapi ada sebahagian yang tidak serupa sama sekali, bahkan dari garis keturunan pun mungkin, sekali lagi mungkin bila ditarik garis lurus kesamaan itu hanya bertemu disatu titik yaitu nabi Adam. Begitu pun, layaknya serupa tapi tak sama itu terkadang kita juga menyaksikan ada orang yang tidak serupa sama sekali tetapi ada hal-hal yang membuat mereka sama dan sejajar dalam pandangan kita. Seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono misalnya. Tentu kita sepakat SBY tidak mirip sama sekali dengan perdana menteri perdana menteri Inggris David Cameron. Begitu juga halnya David Cameron tidak mirip sama sekali dengan Francois Hollande (presiden Francis). Tetapi ketidak miripan itu disamakan oleh status sosial yang mereka miliki sekarang yaitu sama-sama kepala negara atau kepala pemerintahan. Sehingga mereka tidak punya pilihan bahwa sebagai pimpinan sebuah negara ada hal-hal tertentu yang harus mereka perhatikan seperti cara mereka berpakaian, berbicara, merespon issu dan menanggapi kritik. Stutus mereka yang kebetulan orang nomor satu memaksa mereka untuk bisa menjadi warga negara unggul dan terbaik serta mutlak harus menjadi panutan.

Itulah prolog yang coba penulis gambarkan sebelum penulis mengajak pembaca menuju satu titik terkecil dalam membedakan antara Syarfi Hutauruk yang polisiti dengan Bonaran Situmeang yang praktisi hukum. Keduanya punya latar belakang yang berbeda jauh. Tidak hanya itu, wajah mereka pun tidak mirip sama sekali. Sang Praktisi hukum berkumis sedangkan si politisi tidak sama sekali. Bonaran tinggi tegap sedangkan Syarfi pendek dan gemuk. Begitu  banyaknya perbedaan itu ternyata mereka disatukan oleh banyak hal. Pertama, mereka sama-sama berasal dari kampung. Mereka juga sama-sama dewasa di Jakarta. Keduanya juga sama-sama berhasil menjadi orang terkenal. Uniknya lagi mereka juga sama-sama berhasil menjadi pembela rakyat. Bonaran membela orang-orang yang HAM nya terancam sedangkan Syarfi pembela kepentingan rakyat di parlemen. Kesamaan itu pun sempurna secara kebetulan bahwa mereka sama-sama menjadi kepala daerah. Syarfi Hutauruk menjadi Walikota di Sibolga sedangkan Bonaran Situmeang menjadi Bupati di Tapanuli Tengah. Anehnya lagi, antara Sibolga dan Tapanulli Tengah justru adalah kabupaten/kota yang sejarah, kultur dan budayanya sama. Sempurnakan?

Wednesday, April 18, 2012

Potret Pendidikan Tanah Air dan Finlandia


oleh : Samsul Pasaribu*
Jakarta Mengejutkan. Ternyata negara yang paling oke tata kelola pendidikannya bukanlah Amerika Serikat, Jepang atau Jerman. Akan tetapi, kiblat pendidikan dunia saat ini mengarah ke negara Findlandia. Amerika Serikat sendiri berada jauh dibawah level Finlandia, tepatnya di urutan ke-17. Lalu, dimana daya tariknya sistem pendidikan di Finlandia dengan negara-negara lainnya khususnya Indonesia? Jawabannya adalah di kemandirian siswa dan gurunya. Di Finlandia kemandirian dalam mengikuti proses belajar mengajar itu tidak hanya dinikmati oleh guru-gurunya yang begitu dihormati tetapi juga ditularkan kepada para pelajar melalui berbagai kesempatan-kesempatan penting. Salah satunya dimana setiap pelajar diberi otonomi khusus untuk menentukan jadwal ujiannya untuk mata pelajaran yang menurutnya sudah dia kuasai.

Sistem inilah yang dipertahankan oleh Finlandia hingga akhirnya berhasil mengantarkan negara ini berada pada posisi puncak sebagai negara yang paling berhasil mengelola pendidikan nasionalnya. Fantastiknya, dalam evaluasi belajar, angka ketidak lulusan secara nasional tidak pernah melebihi 2 persen pertahunnya. Finlandia juga tidak mengenal istilah ujian semester apalagi ujian nasional layaknya ditanah air. Evaluasi belajar secara nasional dilakukan tanpa ada intervensi pemerintah sekali pun. Karena setiap sekolah bahkan guru berkuasa penuh untuk menyusun kurikulumnya sendiri.
Jadi jangan pernah berhayal bahwa guru-guru di Finlandia disibukkan untuk mengejar terget-target tertentu karena di negeri ini guru selalu menyesuaikan bahan ajarnya dengan kebutuhan setiap pelajar. Jadi, di Finlandia siapa pun presidennya dan menteri pendidikannya tidak akan berpengaruh signifikan terhadap masa depan pendidikan. Karena fungsi pemerintah dalam memajukan sektor pendidikan adalah dukungan finansial dan legalitas. Mau bagaimana caranya, maka gurulah yang berwewenang atas itu karena guru dipandang sebagai sosok yang paling mengerti mau dimana wajah pendidikan Finlandia dibawa dimasa yang akan datang.
Sistem ini telah berdampak positif kepada pola cara mengajar guru yang tidak terlalu dipusingkan oleh hiruk pikuknya politik nasional negaranya. Keseriusan negara Finlandia menyokong keberhasilan pendidikan nasionalnya dibuktikan dengan diterapkannya kebijakan gratis sekolah 12 tahun. Kerenkan?
Ada hal menarik lainnya. Bila ditanah air setiap tahun selalu saja ada perubahan guru yang masuk silih berganti tidak demikian halnya di Finlandia. Jangankan berganti bahkan setiap kelas akan diasuh oleh 3 orang guru sekaligus. Dua orang guru bertindak sebagai guru mata pelajaran sedangkan satu orang lagi menjadi pengawas dan pembimbing setiap siswa dalam memahami setiap bidang studi.
Jadi, bila di Indonesia belajar 12 tahun berarti mengenal belasan bahkan puluhan guru maka di Finlandia selama 12 tahun setiap kelas hanya dibimbing oleh 3 orang guru. Gado-gado dong? Ops, tunggu dulu. Guru-guru di Finlandia bukanlah guru asal-asalan yang dipungut ditengah jalan atau otomatis jadi guru karena dekat dengan penguasa. Guru-guru Finlandia adalah lulusan terbaik setiap perguruan tinggi dan mereka harus masuk dalam kelompok 10 besar lulusan terbaik. Jika tidak, jangan pernah bermimpi jadi guru di negeri ini. Itulah sebabnya guru-guru di Finlandia betul-betul berdedikasi tinggi. Gajinya besar dong? Tidak. Guru-guru Finlandia justru digaji dengan gaji secukupnya bahkan bisa dikatakan kurang memadai.

Tetapi gurunya begitu menikmati profesinya hal ini karena mayoritas masyarakat Finlandia begitu menghormati dan menghargai profesi seorang guru. Bagaimana ditanah air? Dengan alasan melanggar HAM seorang guru bisa dipidanakan hanya karena menghukum seorang murid yang kebetulan indisipliner. Alasan bahwa setiap anak disekolahkan untuk pintar bukan untuk dianiaya menjadi senjata jitu siapa pun untuk memperkarakan setiap guru. Kalau begini seharusnya setiap orangtua jangan pernah menyekolahkan anaknya kalau etika dan moralnya belum bisa dipertanggungjawabkan karena dalam sistem pendidikan nasional kita, etika moral adalah tanggungjawab orang tua sedangkan pencerdasan adalah tanggungjawab guru.
Oleh karena itu salah besar menyalahkan guru bila setiap pelajar tidak beretika karena etika dan moral adalah tanggungjawab orangtua. Jadi, wajarkah kita menyalahkan guru bila diperistiwa tertentu harus bertindak tegas terhadap para pelajar? Bukankah orangtua yang bersangkutan harusnya lebih malu karena jelas-jelas gagal mempersiapkan anaknya lebih bermoral sebelum menempuh pendidikan formalnya.

Tuesday, April 17, 2012

NGAMUK, TAMPAR DAN PERLUASAN SIBOLGA

Perluasan Sibolga dan Tapteng
Oleh : Samsul Pasaribu*
Ada fenomena menarik ditengah-tengah bergulirnya kembali wacana perluasan Sibolga yang ditabuh oleh Wakil Bupati Tapanuli Tengah H.Sukran J Tanjung SE belum lama ini. Fenomena itu adalah munculnya kontroversi atas dukungan sang Wakil Bupati terkait perluasan Sibolga. Parahnya lagi, statemen dukungan itu didengarkan langsung oleh ribuan masyarakat Sibolga. Tidak hanya itu, orang nomor satu di Sumatera Utara ini pun (gubernur-red), juga turut mendengarkan statemen kontroversial sang Wakil Bupati.
Lalu dimana menariknya? Menarik karena pasca dukungan ilegal itu penulis mencoba mencari titik temu beberapa peristiwa secara nasional yang hampir bersamaan terjadinya. Peristiwa itu adalah aksi spontanitas menteri BUMN Dahlan Iskan yang ngamuk di Tol karena menangkap basah antrian panjang digerbang tol lebih dari 5 kendaraan dan issu penamparan petugas lapas yang konon katanya dilakukan oleh Wakil Menteri Hukum dan Ham, Dr.Denny Indrayana dalam sidak pengedar narkoba dari dalam lembaga permasyarakatan.
Dua peristiwa nasional ini yang sempat mengalihkan gejolak kenaikan BBM dan Kasus Korupsi Nazarudin ini punya benang merah dengan kontroversial masyarakat terhadap dukungan Wabup Tapteng akan perluasan Sibolga. Pertanyaannya dimana keterkaitan benang merah itu? Pembaca jangan bingung dulu atau berpikir terlalu sederhana. Benang merah itu bukan karena Menteri BUMN dan Wamenkumham juga turut ribut soal perluasan Sibolga tetapi karena cara masyarakat menilai tindak tanduk pejabat negara ini berbeda ditengah-tengah masyarakat.

Friday, April 13, 2012

Menunggu Ajal Diujung Pensil 2B

Andi Josua Telaumbanua
Jakarta Apa jadinya ketika setiap orang di bumi ini mengetahui kapan waktu kematiannya, maka akan terjadi krisis kepercayaan. Kekhawatiran yang berlebihan akan menghinggapi semua orang. Bahkan setiap orang mungkin sudah tidak mau lagi berbuat apa-apa, hanya berdiam diri menunggu ajal. Dilema seperti itu tidaklah salah ketika dialami oleh orang yang mengetahui kapan kematiannya, namun kenyataannya hal itu justru dialami oleh generasi muda penerus bangsa ini.

Menjelang Ujian Akhir Nasional (UAN) setiap siswa akan diberikan pelajaran tambahan, bahkan bagi beberapa siswa akan secara khusus mengikuti les mata pelajaran di luar jam yang telah disediakan oleh sekolah. Disamping itu para siswa akan diberikan uji coba (try out) ujian pada waktu-waktu tertentu. Semua persiapan itu dilakukan agar siswa mampu menghadapi UAN nantinya. Fenomena diatas merupakan hal yang sudah lumrah diwajah persekolahan Indonesia saat ini. Kelas IX (Sembilan) atau XII (Dau Belas) akan selalu dipaksa untuk fokus pada UAN. Sebab bagi persekolahan UAN merupakan bentuk nyata bagaimana sekolah itu. Semakin besar tingkat kelulusan, maka pihak sekolah akan di nilai berhasil. Meskipun untuk mencapai tingkat kelulusan itu digunakan cara-cara yan tidak tepat.

Tidak dipungkiri lagi cara-cara yang tidak tepat itu sudah menjadi langganan setiap adanya UAN. Hal itu bukan tidak diketahui oleh pihak lain seperti orang tua siswa yang berhimpun di Komite sekolah dan masyarakat sekitar sekolah. Tetapi kerena tuntutan tingkat kelulusan maka semua pihak tidak mempersoalkan cara-cara tersebut. Itu dapat terlihat dari sistem yang diberlakukan pada UAN. Setiap pengawas akan dilakukan pertukaran dengan sekolah lain. pengawas dari sekolah berbeda tersebut hanya akan sebagai robot pengawas yang hanya akan menegur peserta ujian ketika ribut dan bertanya pada peserta ujian lainnya. Tetapi tidak akan menegor ketika ada pihak sekolah yang memberikan jawaban UAN tentunya dengan cara yang sudah dikondisikan agar seolah-olah tidak terjadi kecurangan. Lalu jawaban itu akan berpindah-pindah ketangan peserta lain. sementara pengawas ketika melihat perpindahan bocoran jawaban itu akan bersikap seolah-olah tidak melihat. Bahkan hanya berkata, "Jangan ribut".

Bahkan dengan kondisi saat ini jawaban dikirim melalu SMS ke nomor HP salah seorang siswa setiap ruangan ujian dengan menggunakan nomor HP baru. Padahal sebelumnya telah ada kesepakatan antar pihak sekolah dengan siswa yang akan di berikan SMS tersebut. Kejadian seperti itu seolah-olah sudah menjadi hal yang lumrah dimata setiap orang yang terlibat dalam pelaksanaan UAN. Padahal cara-cara seperti itu adalah bibit merusak kepercayaan gernerasi muda. Ironisnya ketakutan dan ketidakpercayaan secara tidak sadar terlaksana oleh karena perbuatan pemerintah dalam pelaksanaan UAN ditambah lagi persekolahan yang secara tidak benar melakukan pendidikan. Hal itu bisa terlihat dengan peran serta pihak sekolah dalam mengisi ilmu pengetahuan para siswa. Baru ketika akan UAN semua elemen sekolah sibuk melakukan les tambahan.

Monday, March 5, 2012

KORUPSI DAN TRADISI UANG TERIMAKASIH

Oleh : Samsul Pasaribu*
Setiap usaha mengapresiasi kinerja orang lain adalah hal yang layak dilakukan oleh siapa pun. Wajarkan, bila seseorang telah membantu kita dalam memperoleh sesuatu sebagai tanda terimakasih kita pun memberikan sesuatu dalam banyak bentuk. Bisa dengan uang, traktiran atau mungkin sekedar ucapan terimakasih saja. Sekilas memang seperti tidak ada masalah. Akan tetapi bila ditinjau lebih jauh, tradisi dan budaya ini agaknya menjadi salah satu cikal bakal maraknya praktek suap dan korupsi yang belakangan ini marak terjadi.
Pertanyaanya, apakah uang terimakasih salah? Tentu saja tidak. Hanya saja, ia menjadi kurang tepat bilamana tanda terimakasih itu diberikan berhubungan langsung dengan setiap urusan yang bersentuhan dengan kepentingan orang banyak. Pengurusan KTP dan KK misalnya yang oleh beberapa daerah digratiskan. Nyatanya dalam pelaksanaanya terlihat seperti tidak gratis. Banyak masyarakat yang sepertinya “terwajibkan” memberikan uang seikhlasnya sebagai wujud terimakasih telah dibantu mengurus KTP atau KK. Harus dicatat kata “terwajibkan” sengaja penulis gunakan karena dalam kenyataanya, secara umum sebenarnya masyarakat tidak ingin memberikan apa pun setiap mengurus sesuatu di kantor pemerintah, hanya saja karena telah melihat langsung sebagian lainnya memberikan dengan segala macam basa-basi alhasil warga yang semula tidak ingin memberi terpaksa harus melakukan hal yang sama.
Potret lainnya datang dari aparatur pemerintahan itu sendiri. Disalah satu kota di Sumatera Utara dalam pantauan salah satu organisasi pergerakan mahasiswa, (Gerakan mahasiswa Sibolga-Indonesia), nyaris tidak ada satu aparatur pemerintah yang berani mengatakan tidak setiap pemberian uang terimakasih dari warga. Celakanya lagi, untuk sebahagian warga yang tidak tahu lalu bertanya berapa biaya pengurusan KK dan KTP, dengan muka bodoh mereka menjawab “seikhlasnya saja”. Padahal sejatinya, setiap keinginan warga membayar seikhlasnya untuk pengurusan tersebut, aparatur negara sebaiknya dengan tegas mengatakan dan menerangkan lebih dahulu bahwa pengurusan tersebut tidak ada biaya sama sekali.

Wednesday, February 29, 2012

Membangun Dengan Hati dan Hati-hati

Oleh : Samsul Pasaribu*

Penulis pernah mencoba menghitung persentasi uang negara yang dikorupsi para koruptor pertahunnya. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh ICW tahun 2010, tidak kurang dari Rp. 37 triliun pertahunnya uang negara disikat habis para koruptor. Dan semua dana itu tentunya berasal dari APBN. Tetapi tentu saja, jumlah ini belum termasuk kejahatan keuangan lainnya yang tergolong korupsi seperti suap dan gratifikasi. Seorang ekonom juga pernah berkata bila ditotal seluruh sumber pendapatan negara mulai dari pajak dan sumber-sumber lainnya maka kerugian negara bisa mencapai 360 triliun pertahunnya. Tentu saja, uang ini belum masuk dalam APBN karena sifatnya masih mentah dan entah dimana hilangnya. sehingga pandangan ekonom ini bisa disebut dengan potensi keuangan negara lenyak 360 triliun pertahunnya. tetapi, untuk APBN sendiri yang disahkan setiap tahunnya diatas angka 1000 triliun, para koruptor berserta kroni-kroninya menilepnya dengan cara  haram sebesar 37 triliun pertahunnya.
Untuk mempermudah hitungan kita kali ini sebutlah setiap tahun APBN sebagai uang yang sah dikelola pemerintah sebesar Rp. 1000 triliun. itu artinya pertahunnya APBN kita dikorup sebesar 3.7 persen. Bila dilihat angkanya tentu 37 triliun itu adalah angka yang besar. Akan tetapi bila dipersentasekan dengan semua APBN kita, 37 triliun itu tentulah sedikit. Karena negara kita masih memiliki anggaran sebesar Rp. 963 Triliun untuk melakukan pembangunan disegala bidang. Pertanyaanya, apakah korupsi satu-satunya penyebab utama Indonesia larut dengan kemiskinannya? Apalagi, bila uang sebesar 37 triliun itu dibagi kepada seluruh pakir miskin yang berjumlah 13.14 persen penduduk  negeri ini maka perorangnya akan menerima  Rp. 1.198.225. Uang sebesar ini tentu sangat tidak berarti sama sekali untuk sekedar bertahan hidup. Dengan kata lain, andai tidak dikorup pun ternyata, bukan menjadi solusi dalam hal pemecahan masalah-masalah pengangguran dan kemiskinan.

Monday, January 9, 2012

Bangsamu Membutuhkan Kamu!

Oleh : Ahmad Azhar Chan Aritonang
Ahmad Azhar
" Saya tertarik untuk membahas tentang pemuda sa'at ini, bahkan jauh-jauh hari sudah ada yang lebih semangat bila berbicara tentang pemuda, siapa lagi kalau bukan Bung Karno. yah.. salah satu tokoh proklamator walaupun saya tidak terlalu suka dengan kepribadiannya, tapi ada satu ucapan yang menarik darinya " Berikan sa...ya 10 pemuda maka saya akan merubah dunia". Kata-kata itu sangat dahsyat walaupun hanya sekedar kata doank, toch buktinya sampai hari ini kondisi kita masih adem-adem saja.

Suatu ketika, saya melihat status dari salah satu teman facebook "Berikan aku 5 pemuda, maka akan ku buat BoyBand", terang saja saya merasa geli dan lucu ketika melihat status itu. Walaupun pada akhirnya memang pemuda kita sa'at ini lebih suka menari-nari di televisi atau bahkan hanya sekedar pengen nongol dilayar Tv dengan gaya yang agak berlebihan atau bahasa kerennya 'Alay' . Ironis memang, disa'at bangsa ini lagi banyak masalah kebanyakan pemuda kita malah cuek dan lebih asyik dengan dirinya sendiri dan kelompoknya.
 

Sunday, January 8, 2012

Kekuatan Dalam Kelemahan

Oleh : Widya Astuti
Widya Astuti
Kelemahan itu adalah sumber dari kekuatan. Kelemahan itu akan jadi kekuatan apabila saya atau anda mampu untuk melawannya dan tidak menjadikan kelemahan itu melemahkan anda.Banyak diantara kita menjadikan kelemahan itu adalah sesuatu yang melemahkan.Merasa minder, kurang PD (percaya diri),merendah  diri dihadapan orang... lain. Dan akhirnya tidak mau berusaha untuk menjadi lebih baik, mudah menyerah atau putus asa, selalu merasa sendiri, dan lainnya.Sikap-sikap demikianlah yang disebut sikap yang menghancurkan diri sendiri, menyuramkan masa depan, dan menjadikan hidup tidak akan pernah maju.Di beberapa media, baik itu TV, majalah, koran, serta media-media lainnya, telah banyak menayangkan dan memberitakan orang-orang yang lemah akan fisik dan mentalnya, yang mereka-mereka itu adalah orang-orang yang sukses.Mereka sukses karena mereka tidak menjadikan kelemahan menjadi sesuatu yang melemahkan mereka. mereka menjadikan kelemahan mereka sebagai sebuah kekuatan di dalam diri dan kehidupan mereka.Beberapa deretan nama-nama yang berhasil kuat dan sukses berkat kelemahan mereka adalah:

Monday, January 2, 2012

SEKAPUR SIRIH DI 2012

Oleh : Redaksi Blog Germasi
Treeeet..treeet..treeeet. Terompet telah ditiup. seiring dengan itu, warna langit yang semula gelap gulita berubah dengan rentetan suara yang menggelegar dengan cahaya yang beraneka warna. Kembang api mewarnai mayoritas wilayah Indonesia. Cerah, mendung atau hujan sekalipun tidak menyurutkan hati warga negara bangsa ini untuk turut larut dalam moment malam pergantian tahun. ya, hitungan mundur pun telah di mulai dan tepat pukul 00.00 Wib, tahun 2012 pun tiba dan mengambil alih peranan 2011 yang telah bertugas selama 365 hari.

Untuk hitungan kalender masehi, ini yang ke-2012 kali tahun berganti. dan berdasarkan kalender China, tahun 2012 adalah tahun Naga. artinya, tahun 2012 adalah tahun penuh kebaikan, semangat dan kerjakeras. Ya, bukan dalam rangka percaya dengan ramalan ini dan itu, tapi selama itu  baik tentunya hati kecil kita meng-aminkannya. Baik-buruk, susah-senang, porak poranda keadaan yang diwariskan oleh 2011 harus disikapi sebagai pelajaran pahit bangsa ini untuk berani mengevaluasi kinerjanya dimasa yang akan datang.

Permasalahan pribadi, kelompok, golongan bahkan hingga permasalahan bangsa dan negara yang tidak bisa terselesaikan ditahun lalu harus ditata ulang lagi dengan baik hingga sebelum 2012 berganti tahun semua sudah bisa kita selesaikan. Mario Teguh pernah berkata bahwa, jangan pernah berkata bahwa tuhan terkadang memberi kita masalah diluar kemampuan kita. percayalah bahwa, semua masalah bisa kita selesaikan hanya saja kita terlalu sering menunda-nunda penyelesaiannya sehingga setelah  menumpuk kita menjadi kesulitan mencari solusinya. oleh karena itu, harus ada progres yang jelas dari siapa saja untuk menghadapi 2012 dengan lebih pasti, semangat dan lebih berarti.

Manusia hanya satu dalam konsep memahami tuhan, artinya di Indonesia kita bersepakat sebagai negara yang berketuhanan lain dari itu kita berbeda dalam banyak hal. Begitu pun perbedaan itu mempengaruhi langkah kongrit kita untuk berbuat untuk bangsa ini. Percayalah bahwa, terkadang ktia tidak sadar bahwa orang yang hanya pandai bicara, berkoak-koak, dan cuma bisa mikir telah memberi sumbangsaran yang tak terkira kepada kita untuk bisa lebih baik dimasa yang akan datang.

jadi, lalat saja ada gunanya diciptakan tuhan, masa manusia sebagai makhluk yang sempurna diciptakan tuhan tidak bisa bermanfaat bagi sesama dan alam. Hal yang pasti kita bangun menuju 2012 yang lebih berarti adalah, keyakinan bahwa kita bisa, bisa dan bisa. Bisa membawa segalanya menjadi lebih baik.

Selamat Tahun Baru 2012. Mari jadikan 2012 sebagai tahun kebangkitan pergerakan mahasiswa Sibolga diseluruh Indonesia. Tahun bisa berganti, usia bisa semakin tua tetapi semangat harus tetap muda. Hidup Mahasiswa, hidup rakyat Indonesia.

Friday, December 30, 2011

Heran Dengan Negeri Ber-Tuhan


Oleh : Ahmad Azhar
Ketua Depwil Germasi Kota Medan

Ahmad Azhar

Ini negeri indah, kaya, religius dan berbudaya adiluhur. Semua penghuninya beragama, tertulis jelas di KTP dan mengaku ber-Tuhan. Sepanjang tahun silih berganti diadakan upacara pemujaan tuhan besar-besaran. Bila demikian seharusnya berkenan untuk melimpahkan karunia dan rahmat-Nya. Kehidupan sejahtera dan damai akan untuk seluruh rakyat. Namun, apa yang  terjadi? Sungguh terheran-terheran dengan keadaan yang ada. Negeri ini menjadi terpuruk dengan perilaku masyarakatnya yang masih buruk.

Jangan heran bila dinegeri yang katanya ber-Tuhan para pejabatnya kesetanan melakukan korupsi. Mungkin sudah nega dan minta izin pada Tuhan bahwa apa yang dilakukan bukan untuk korupsi. Tetapi sekedar usaha untuk mengembalikan modal plus bunganya dengan hitungan rentenir. Jangan heran pula, negeri yang katanya Pancasilais tetapi perilaku pemimpin dan rakyatnya bisalebih kejam daripada negeri komunis. Kelakuan aparatnya bisa lebih bengis dari aparat negara sosialis. Kedamaian yang diharapkan hanya menjadi impian. Kesejahteraan didambakan berganti bencana dan pertikaian. Perselisihan dan kerusuhan tercipta dari gedung sampai ke jalanan.

Thursday, December 22, 2011

Wajar 12 Tahun, I Ijazah, Kenapa Tidak!


Oleh : Samsul Pasaribu*

Seiring perjalanan waktu, metodologi pendidikan kita sudah banyak berubah. Berbagai macam kurikulum silih berganti sejalan dengan bergantinya para menteri. Resuffle kabinet tidak hanya sebatas mengganti para menteri tapi juga berimbas kepada berubahnya kebijakan pendidikan secara nasional. Tentu saja kalau menteri pendidikan dan kebudayaan turut diganti. Bangsa ini sudah banyak mengenal berbagai kurikulum mulai dari KBK (kurikulum berbasis kompetensi) sampai dengan KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan). Kemendikbud RI juga tetap setia menerapkan standarisasi ujian nasional walaupun belakangan tidak lagi menjadi faktor utama menentukan lulus tidaknya seseorang karena ujian sekolah setidaknya 40 persen cukup mempengarhui kelulusan dimaksud.
Begitulah setidaknya gambaran umum pendidikan kita secara nasional. Dan maaf sebelumnya, karena penulis bukan pakar pendidikan nasional maka anggaplah tulisan ini sebagai cara pandang orang awam tentang dunia pendidikan kita. Namanya juga orang awam tentu tidak semua yang tertulis dan dibaca benar adanya.
Kembali ketopik. Banyaknya warna metodologi pendidikan yang diterapkan dibangsa ini harus dipandang sebagai upaya pemerintah mencari formula terbaik untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Hanya saja, kalau selama 66 tahun mencari formula terus kita jadi bertanya, sebenarnya hilang kemana formula pendidikan itu sehingga begitu sulit kita menemukannya. Atau dengan bahasa nyeleneh-nya kita bertanya, pemerintah serius tidak sih mengurus pendidikan ini?

Saturday, October 8, 2011

Membangun Sibolga - Tapanuli Tengah

Oleh : Samsul Pasaribu*
Secara khusus tentunya tulisan ini penulis tujukan buat dua daerah kembar identik serumpun Sibolga dan Tapanuli Tengah. Sebagai daerah serumpun, sejatinya problematika penyelesaian konflik di daerah ini lebih cepat teratasi dan tidak terkesan berlarut-larut. Namun, ego kepemimpinan sebagai raja-raja kecil di daerah cenderung lebih mendominasi ketimbang mengapresiasi keinginan berubah dan berkembang dari warganya yang konon katanya telah lama menginginkan adanya pemekaran wilayah.
Maksimalisasi pemekaran Sibolga dan Tapanuli Tengah
Apa pun itu, selama konteksnya mempercepat terwujudnya kesejahteraan dan diramu dalam grand desain yang diterima logika serta lebih efektif maka layak diterima dan ditindaklanjuti. Tuntutan pemekaran yang sudah lama di dengungkan tidak bisa dikarenakan faktor lata mengikuti daerah orang lain akan tetapi harus berdasarkan kajian yang mendalam dan penuh pertimbangan. Dan jika memungkinkan, seperti kata pepatah sambil menyelam minum air maka, apa yang hemat kita bisa dilaksanakan secara bersamaan haruslah menjadi hal yang lebih utama ketimbang memisah-misahkannya padahal bisa sekali dayung dua tiga pulau terlalu.

Thursday, September 29, 2011

Kepedulian Setengah Hati

Kamis, 29 September 2011
Mau tau siapa saja orang yang paling peduli dengan daerah kita? Jawabannya lihat saja setiap tokoh yang mencalonkan diri jadi kepala daerah. Kalau konteksnya nasional, maka setiap calon presiden yang maju akan mengklaim sebagai sosok yang paling peduli, paling tahu dan paling memahami kondisi bangsa ini. Tapi benarkah demikian? Jawabannya tidak. Tentunya kata “tidak” ini disesuaikan dengan kondisi bangsa kita saat ini. Kata “tidak” ini juga tentu ada pengecualian khususnya untuk beberapa daerah yang memang kebetulan tuhan menganugerahkan kepada mereka kepala daerah yang benar-benar amanah.
Oleh: Samsul Pasaribu
Judul tulisan kali ini sengaja penulis beri “Kepedulian Setengah Hati”. Hal ini karena rasa penasaran yang besar terhadap beberapa daerah yang sebenarnya sudah diketahui letak permasalahannya tapi tak kunjung bisa diselesaikan. Sibolga misalnya. Kota terkecil di Indonesia ini ternyata tidak punya sedikit masalah. Justru sebaliknya. Kendati kecil, namun berbagai permasalahan acap kali tidak bisa terselesaikan hingga saat ini. Mulai dari minimnya hasil tangkapan para nelayan khususnya nelayan tradisional, hasil UN yang masih menjadi tanda tanya besar, pembangunan sarana olahraga di Aek Parombunan yang tak tahu kapan akan usai, dan sarana transportasi yang carut marut, serta praktik-praktik korupsi yang menggurita hingga level bawahan. Semua tumbuh dan berkembang tanpa pernah ada pihak-pihak yang serius untuk mencoba (hanya mencoba saja) untuk menghentikannya.

Monday, September 26, 2011

SULITNYA UNTUK BERUBAH

Senin, 26 September 2011
Berubah, sulitkah? Jawabannya tentu berbeda-beda. Bagi segelintir orang yang merasa sudah “hijrah” dari pola-pola lama ke masa pembaharuan tentu akan berkata berubah itu tidak sulit. Tapi, kalimat itu terucap setelah melalui proses yang panjang. Artinya, untuk berubah tentu bukanlah hal yang mudah. Tentu sebelum kita lanjutkan harus kita garis bawahi dulu bahwa perubahan yang dimaksud dalam topik kita kali ini adalah dalam kacamata konstruktif. Kendati pun pola destruktif juga bagian dari perubahan. Akan tetapi, ke-sejatian dari sebuah perubahan adalah change from the bad to the better.
Oleh : Samsul Pasaribu
Apa pun ceritanya, berubah tetaplah membutuhkan proses yang tidak singkat. Yang terpenting dari upaya merubah diri bukanlah pada apa saja yang kita lakukan untuk bisa berubah akan tetapi terletak pada kapan kita mulai berubah. Karena andai memulai proses sebuah perubahan kita terjebak dalam hal-hal konseptual dalam artian memulai keinginan berubah pada hal-hal teoritis maka, secara otomatis kita hanya akan berubah secara teori sedangkan dalam realita yang sesungguhnya kita masih jauh dari kata berubah. Untuk itulah, untuk berubah hanya ada satu cara yaitu “segera berubah dan dimulai dari sekarang”.

Tuesday, August 16, 2011

Momentum Agustus 2011

Oleh: Irfan Arhamsyah Sihotang

Agustus tahun ini sangat terasa istimewa dikarenakan sejak awalnya bulan ini kita juga serentak digandeng dengan awal bulan yang kita (muslim) imani suci, Bulan Ramadhan.
Wacana pun terkembangkan menjurus kepada sejarah di tanah air dalam peraihan kemerdekaan dan bulan ramadhan yang juga menjadi momentumnya. Revolusi agustus yang fenomenal tertanggal 17 tahun 1945 saat itu adalah hari ke-9 (sembilan) dari Ramadhan 1366 H. Kini, cerita dibulan Agustus dan Ramadhan pun menghadirkan sensasi baru yang menjadi satu cerita unik saat tersadari bahwa hari kemerdekaan kita (Indonesia) tahun ini disandingkan dengan hari turunnya Al-Qur’an, kitab suci yang menjadi mu’jizat di akhir zaman.
The Month of Spirit, begitulah penulis menggelari momentum ini. Begitu kentalnya nuansa spiritual yang mengaliri setiap pemikiran dan hati seluruh bangsa Indonesia terkhusus kepada umat muslim yang saat ini menjalankan ibadah puasa sembari mempersiapkan diri untuk memasuki usia baru dieksistensinya selama 66 tahun.

Friday, August 12, 2011

FENOMENA DARSEM

Oleh : Novitasari Tanjung

Rasanya berada di ujung maut apalagi dengan pancungan? Membayangkannya saja mungkin kita tak sanggup apalagi bila harus menjalaninya. Upaya apa pun pasti kita lakukan asalkan bisa lepas dari jeratan si tukang jagal. Bahkan (mungkin) kita rela seluruh isi dunia digadaikan asalkan hidup kita tidak berakhir dengan pancungan.Inilah realitanya dan penulis yakin, Darsem, merasakan hal ini ketika dalam penantian hidup mati di Arab Saudi. Kata yang harus digaris bawahi pada paragraf ini adalah “menggadaikan isi dunia asal kita tetap hidup”.
Pertanyaannya adalah, setelah Darsem terselamatkan dari hukuman mati, sudahkan Darsem menggadaikan dunianya? Jawabannya belum bahkan sangat jauh dari kata sudah. Entah terlalu bahagia, atau mungkin sudah jadi tabiat, Darsem justru mengambil seluruh hak dunianya dalam bentuk uang kepedulian rakyat Indonesia untuk memperkaya dirinya. Padahal bisa jadi, uang tebusan itu tidak hanya digelontorkan oleh orang-orang kaya dan berada. Ratusan bahkan ribuan dari para donatur kaget (meminjam istilah pasar kaget yang ada tiba-tiba) itu adalah kalangan rakyat miskin yang merasa senasib dan sepenanggungan dengan Darsem. Kendati tidak kenal siapa itu Darsem, baik atau tidak, dermawan atau tidak ribuan rakyat Indonesia bersepakat yang penting Darsem selamat dulu. Jangan sampai menyusul Ruyati yang bernasib malang. Tapi, lagi, Darsem lupa bahwa ia pernah berfikir bahwa nyawa lebih berharga dari apa pun di dunia ini.

Thursday, August 11, 2011

Kepedulian Berbasis Kepentingan

Oleh : Samsul Pasaribu

Siapa yang tidak sepakat bila bangsa ini bebas dari korupsi? Atau siapakah dari rakyat negeri ini yang tidak mau bahwa kejujuran, kedisiplinan dan penegakan hukum harus dilakukan sejak dini dan merupakan tanggungjawab semua orang? Jawabannya, tentu tidak ada seorang pun yang tidak bersepakat.
Bahkan anak sekolah taman kanak-kanak (TK) sekalipun andai ditanya hal yang sama, dengan kepolosannya akan menjawab korupsi harus di basmi dan hukum harus ditegakkan. Lalu, cukupkah itu semua? Tentu saja tidak.
Hal yang membuat itu semua belum cukup adalah karena kepedulian yang dipertontonkan oleh pejabat, penguasa bahkan rakyat jelata sekali pun masih dalam konteks tarik ulur kepentingan. Sederhanannya adalah, andai kepentingan kita tidak terganggu maka semua harus ditegakkan. Tapi begitu kepentingan itu terusik maka bisa dipastikan semua yang selama ini kita minta untuk ditegakkan justru kita pulalah yang berada dibarisan terdepan untuk meruntuhkannya.