Oleh : Novitasari Tanjung
Rasanya berada di ujung maut apalagi dengan pancungan? Membayangkannya saja mungkin kita tak sanggup apalagi bila harus menjalaninya. Upaya apa pun pasti kita lakukan asalkan bisa lepas dari jeratan si tukang jagal. Bahkan (mungkin) kita rela seluruh isi dunia digadaikan asalkan hidup kita tidak berakhir dengan pancungan.Inilah realitanya dan penulis yakin, Darsem, merasakan hal ini ketika dalam penantian hidup mati di Arab Saudi. Kata yang harus digaris bawahi pada paragraf ini adalah “menggadaikan isi dunia asal kita tetap hidup”.
Pertanyaannya adalah, setelah Darsem terselamatkan dari hukuman mati, sudahkan Darsem menggadaikan dunianya? Jawabannya belum bahkan sangat jauh dari kata sudah. Entah terlalu bahagia, atau mungkin sudah jadi tabiat, Darsem justru mengambil seluruh hak dunianya dalam bentuk uang kepedulian rakyat Indonesia untuk memperkaya dirinya. Padahal bisa jadi, uang tebusan itu tidak hanya digelontorkan oleh orang-orang kaya dan berada. Ratusan bahkan ribuan dari para donatur kaget (meminjam istilah pasar kaget yang ada tiba-tiba) itu adalah kalangan rakyat miskin yang merasa senasib dan sepenanggungan dengan Darsem. Kendati tidak kenal siapa itu Darsem, baik atau tidak, dermawan atau tidak ribuan rakyat Indonesia bersepakat yang penting Darsem selamat dulu. Jangan sampai menyusul Ruyati yang bernasib malang. Tapi, lagi, Darsem lupa bahwa ia pernah berfikir bahwa nyawa lebih berharga dari apa pun di dunia ini.
Oleh : Samsul Pasaribu
Siapa yang tidak sepakat bila bangsa ini bebas dari korupsi? Atau siapakah dari rakyat negeri ini yang tidak mau bahwa kejujuran, kedisiplinan dan penegakan hukum harus dilakukan sejak dini dan merupakan tanggungjawab semua orang? Jawabannya, tentu tidak ada seorang pun yang tidak bersepakat.
Bahkan anak sekolah taman kanak-kanak (TK) sekalipun andai ditanya hal yang sama, dengan kepolosannya akan menjawab korupsi harus di basmi dan hukum harus ditegakkan. Lalu, cukupkah itu semua? Tentu saja tidak.
Hal yang membuat itu semua belum cukup adalah karena kepedulian yang dipertontonkan oleh pejabat, penguasa bahkan rakyat jelata sekali pun masih dalam konteks tarik ulur kepentingan. Sederhanannya adalah, andai kepentingan kita tidak terganggu maka semua harus ditegakkan. Tapi begitu kepentingan itu terusik maka bisa dipastikan semua yang selama ini kita minta untuk ditegakkan justru kita pulalah yang berada dibarisan terdepan untuk meruntuhkannya.
Puasa? Ya, tapi bukan jadi alasan untuk bermalas-malas dan melakukan apa yang bisa kita lakukan hari ini. Karena puasa hakekatnya ajang melatih diri bisa melakukan apa pun dalam suasana perut lagi kosong, panas lagi terik dan badan lagi capek. Hehehe..
Pokoknya, pantang menyerah, tujuan harus tercapai.. Ayo kawan-kawan, berbuat jangan nunggu sukses dulu.. kini kita bisa ayo berbuat..
BERIKUT SERBA-SERBI SURVEY GERMASI
YANG TEREKAM DALAM CAMERA
 |
| Mamak, barapo ka kantor walikota? Hehehe. Kawan Septian lagi dialog dengan Tukang becak |
 |
| "Lakke etek pamanis galak tu, kane gambar kito" kata Widya dan Irfan. hehee |
 |
| Wah, kawan-kawan Ikopin braninya keroyokan ma Widya. 3 lawan 1 hehe |
 |
| Nampang dulu sebelum action.. |
 |
| Lho, kawan Intan lagi ngigau.. tidur sambil jalan. Bu, ditolong dong jangan diliatin aza haha.. |
 |
| Gaya tu da.. hahaha.. semangat terus ya abang becak kami.. |
 |
| Totalnya utang bapak tu 300 ribu, ditambah nan kapatang 200 ribu jadi 500 rbu sadonyo.. hahaha |
 |
| Mamak, wawancara kito yo, barapo becak mamak ko kok dijua.. hahaha/.. |
 |
| tukang becak: "mm, klo untuk mahasiswa adik ambik sajolah gratis ikhlas mamak anyo" haha.. |
 |
| Direktur kita ni mau wawancara atau mangintip?? hahahaha.. just kidd pak dir! |
 |
| Septian: "mamak, klo balomba becak mamam samo BJ ko siapo manang?" Hahaha.. |
LINGKAR SURVEY
GERAKAN MAHASISWA SIBOLGA INDONESIA (GERMASI)
 |
| Lingkar Survey Germasi diabadikan sesaat setelah rapat perumusan materi survey |
 |
| Senym yang manis ya.. hehehe |
 |
| Sekretaris eksekutif LSG Irfan Arhamsyah serius jalankan tugas |