Selamat Atas Peluncuran Majalah Online GERMASI "IDEALIS", Terbit Tanggal 5 Setiap Bulan. Jangan Sampai Ketinggalan

Monday, January 31, 2011

Germasi : Pariwisata Sibolga jalan ditempat

Ketua Komisi III DPRD Sibolga terima perwakilan Mahasiswa di Bandung

Bandung-Metro
Minggu, 30 Januari 2011
Jamil Zebtumori di sambangi GERMASI di Bandung
Tahu ada anggota DPRD Sibolga yang berkunjung ke Bandung Jawa Barat tanggal 26 Januari 2011 lalu, Gerakan Mahasiswa Sibolga (Germasi) secara spontan melakukan pertemuan dan mohon diizin bertemu untuk berdiskusi perihal perkembangan Sibolga terutama pasca pemilukada 2010 yang lalu. Setelah menunggu hampir 2 jam, akhirnya Germasi diterima ketua Komisi III DPRD Sibolga, Jamil Zebtumori diruang lobi hotel Sedaton Bandung Jawa Barat.
Dalam pertemuan yang dimulai pukul 18.30 sampai dengan 21.30 Wib itu Germasi menyampaikan kekecewaannya terhadap walikota Sibolga khususnya Wakil Walikota karena sebagai mantan kepala dinas kebudayaan, pemuda dan olahraga (budparpora), Wawako sudah harus menunjukkan konsep besarnya dalam memajukan pariwisata Sibolga dimasa lima tahun kedepan.
Ketua umum PB Germasi, Samsul Pasaribu melalui selulernya sesaat setelah pertemuan kepada Metro menuturkan bahwa pariwisata Sibolga masih dikelolah dengan pola biasa-biasa saja. Alhasil, hasilnya pun biasa-biasa saja. “Pola lama, wisata Sibolga di promosikan melalui mencetak brosur, kalender, partisipasi uning ogek dan ikut tampil di ajang PRSU melalui pemaksimalan peran uning ogek. Dan setelah 10 tahun berlalu, metode ini oleh GERMASI dinilai gagal bahkan tidak menunjukkan pengaruhnya terhadap pariwisata Sibolga. Harusnya, setelah 10 tahun tidak membuahkan hasil, ya dievaluasi dong, ini kok malah dilanjutkan terus” sesal Samsul seraya menambahkan bila begini terus, sebaiknya tidak usah ada dinas yang mengurusi pariwisata di Sibolga karena memang tidak ada fungsinya.

Friday, January 28, 2011

Komisi III DPRD Sibolga terima GERMASI di Bandung

GERMASI abadikan pertemuan di Hotel Sedaton Bandung

Ketum GERMASI paparkan konsep majukan pariwisata Sibolga

Pertemuan berlangsung santai dan penuh dengan canda tawa

Sikapi GERMASI Ketua Komisi III janji tetap dukung kritikan konstruktif

GERMASI minta DPRD dan Pemko bersinergi benahi Pariwisata Sibolga

Wednesday, January 26, 2011

Germasi Apresiasi Anggaran Pendidikan

Ketum Germasi dan Sekjend
Rabu, 26 Januari 2011
SIBOLGA-METRO; Gerakan Mahasiswa Sibolga (Germasi) se-Indonesia mengapresiasi keseriusan Pemko Sibolga yang mengalokasikan 30 persen di APBD Sibolga untuk sektor pendidikan.
“Anggaran yang terbilang cukup besar ini, oleh Germasi dipandang sebagai terobosan baru pemerintah untuk menggenjot prestasi akademik di Negeri Berbilang Kaum dan tidak ada alasan untuk tidak mendukung perhatian besar seperti tersebut,” kata Ketua Umum PB Germasi Samsul Pasaribu, dan Sekjend  PB Germasi Andi Josua, kepada METRO di Sibolga, Selasa (25/1).
Menurut Samsul, untuk memajukan Sibolga, Sibolga harus berani belajar dari Jepang

Monday, January 24, 2011

Germasi: Guru juga Harus Siap Dikritik

Sibolga, 24 Januari 2011
SIBOLGA-METRO; Gerakan Mahasiswa Sibolga (Germasi) menegaskan, guru juga harus siap menerima kritikan siswanya. Bukan malah mengeluarkan sanksi, agar si siswi yang mengkritik lewat status facebook diminta pindah sekolah.
“Seharusnya oknum guru itu bisa menerima unek-unek yang disampaikan siswi tersebut sebagai langkah memperbaiki kualitas mengajar,” kritik Sekjen PB Gerakan Mahasiswa Sibolga (Germasi) Andi Josua Telaumbanua, di sela-sela pertemuannya dengan dua Kepala Departemen Wilayah (Kadepwil) Germasi Padang dan Medan, kepada METRO di Sibolga, Minggu (21/1).
Dia menyadari, kecanggihan teknologi memang bisa berdampak buruk terhadap para generasi muda, jika tidak digunakan dengan benar. Seperti halnya yang dilakukan salahseorang siswi SMPN 1 Sibolga yang memperbaharui statusnya di facebook dengan mengatakan “Bosan kali aku dengar ibu ini ceramah”, sehingga nyaris dipecat oleh pihak sekolah.
Masih kata Andi, sejatinya pihak sekolah memberikan pembinaan kepada anak tersebut agar lebih santun dalam menyampaikan unek-uneknya.
Namun ia menyayangkan, sikap oknum guru tersebut yang bahkan tidak menerima permintaan maaf dari orangtua siswa. “Sebagai guru mata pelajaran yang mengajarkan moral dan etika, sikap yang ditunjukkan justru berbanding terbalik dengan apa yang diajarkannya. Oleh karena itu, kita perlu evaluasi kembali apakah siswa atau guru yang mengajarkan moral dan etika tersebut yang salah. Sebab ada pepatah mengatakan, guru kencing berdiri, murid kencing berlari,” tukasnya.
Dia mengatakan, kegagalan itu juga bisa diakibatkan faktor phisicologis, karena si anak trauma dan pesimis menghadapi perjuangan selanjutnya sebagai pelajar di SMP N 1 Kota Sibolga. “Oleh karena itu, tugas besar guru-gurunya ke depan adalah mengembalikan physicologis si anak seperti semula agar normal kembali menghadapi proses belajar sebagaimana biasanya,” ujar Andi. (afn)

Tuesday, January 18, 2011

Atasi Banjir, diperlukan penataan ulang Drainase

Kadepwil Germasi Kota Sibolga
SIBOLGA-METRO; Untuk mengatasi banjir di tengah perubahan iklim tak menentu belakangan ini, diperlukan penataan ulang sistem drainase.
Hal itu dikatakan Ketua Umum PB Gerakan Mahasiswa Sibolga (Germasi) Samsul Pasaribu, melalui Kepala Departemen Wilayah (Kadepwil) Germasi Kota Sibolga Kabri Anshar Tanjung, kepada METRO, Senin (17/1). Kabri berharap, Wali Kota Sibolga meninjau ulang keberadaan beberapa drainase di Kota Sibolga.
Pantauan Germasi, hujan sesingkat apa pun di Kota Sibolga, tak jarang berdampak banjir bagi sebahagian besar lokasi di Sibolga. Tak terkecuali lokasi yang dekat aliran sungai.
Dia mengatakan, seringnya Kota Sibolga dilanda banjir membuktikan bahwa tata ruang kota dan sistem drainase di Sibolga masih buruk. “Itu artinya, keberadaan saluran pembuangan air di Kota Sibolga buruk dan tidak seimbang. Bayangkan saja, parit-parit yang ada di Sibolga sudah tidak begitu lebar juga tidak begitu dalam. Alhasil setiap hujan, air yang seyogianya mengalir langsung ke laut melalui drainase yang ada justru meluap ke jalan,” keus pria yang sekarang menempuh pendidikan di STIE Al-Wasliyah Sibolga ini.
Sebagai daerah yang berada di pinggir laut, sambung Kabri, harusnya Sibolga jauh dampak kesan banjir. “Jika Sibolga terkena banjir Rob, yaitu banjir yang diakibatkan pasang laut itu masih wajar. Tapi kalau banjir akibat hujan, pasti ada sesuatu yang salah dengan sistem drainase kota ini,” tukasnya.

Saturday, January 15, 2011

Krisis Hukum Indonesia

Oleh : Riki Hardinanto
Kadephumas Germasi
Sering sekali kita melihat ada kesenjangan didalam Lembaga Permasyarakatan (LP) di Indonesia, mungkin anda ingat dengan LP atau Hotel? Yg punya Uang mendapat perlakuan lebih dari oknum, sedangkan yg tidak mendapatkan perlakuan yg mungkin tidak layak bagi manusia. LP untuk orang yg tidak punya uang setidaknya tidaklah pantas untuk mendapatkan predikat LP melainkan Penjara yg bedanya adalah bukan untuk memasyarakatkan melainkan untuk menyiksa, sangat berbeda dengan yg mempunyai uang bahkan ada yg menjadikan LP sebagai Hotel dengan bantuan para oknum tersebut,efek jera nya pun berbeda pula semakin banyak uang yg dikeluarkan semakin mempermudah hukumannya begitu juga sebaliknya tidak ada uang maka tidak ada pula perlakuan lebih.
Pernahkah anda berfikir kenapa sering terjadi pemerkosaan oleh ayah kandung sendiri terhadap anaknya,perlakuan sodomi oleh guru kepada muridnya dan seorang ustadz yg memperlakukan muridnya dengan tidak senonoh?, Hukuman yg diberikan oleh kasus tersebut hanya sekitar 6 tahun sampai dengan 15 tahun sedangkan akibat yg ditimbulkannya memberikan dampak trauma yg sangat sukar dihilangkan dan para Psikiater

Thursday, January 13, 2011

HUKUMAN YANG LAYAK BAGI GAYUS


HUKUMAN YANG LAYAK BAGI GAYUS
Oleh : Samsul Pasaribu*
Hari ini adakah orang Indonesia yang tidak kenal Gayus? Jangankan di dalam negeri nama Gayus sekarang begitu terkenal di dunia. Bukan karena prestasi yang bisa menginspirasi setiap orang untuk berguna bagi bangsa dan negaranya, Gayus justru mencoreng muka bangsa yang berdaulat ini dimata dunia internasional karena dianggap lemah dalam menegakkan supremasi hukum.
Kendati setiap “keanehan” yang dimunculkan Gayus selama mengikuti proses pengadilan atas kejahatan keuangan (financial crimes) yang ia lakukan membawa hikmah terbongkarnya kebobrokan oknum aparat kepolisian di negeri ini tidak serta merta membuat rakyat berempati terhadap Gayus. Justru sebaliknya, rasa geram terhadap pola tindak tanduk Gayus yang tidak sedikit pun menghormati hukum membuat ratusan juta rakyat ini tak sabar menanti hukuman apakah gerangan yang divoniskan kepada pria yang selalu berpesiar selama menjani masa tahanannya.
Jika merujuk kepada UU nomor 11 tahun 1980 tentang tindak pidana penyuapan, Gayus hanya akan dihukum lima tahun penjara dan denda 15 juta rupiah. Jika merujuk UU anti korupsi  nomor 31 tahun 1999, pada Bab II pasal (2) ayat 1 dan 2 dijelaskan koruptor hanya dihukum paling sedikit 4 tahun dan sebanyak-banyaknya 20 tahun dan dalam keadaan tertentu bisa dijatuhkan hukuman mati. Namun, begitu banyaknya kasus korupsi dinegeri ini pengadilan tipikor rata-rata hanya menjatuhkan hukuman 4,5 tahun dan satu-satunya yang dijatuhi hukuman penjara 20 tahun hanya jaksa Urip Tri Gunawan.
Kini, berdasarkan fenomena Gayur Tambunan, hukuman apakah yang layak ia terima? Jika merujuk UU yang ada dinegeri ini, hukuman yang mungkin akan sangat memuaskan publik Indonesia adalah hukuman mati. Tapi mungkinkah ini? Sebelum hakim memutuskan penulis akan menjelaskan ini tidak mungkin. Kendati pun UU nomor 31 tahun 1999 mengatur pasal (2). Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu pidana mati dapat dijatuhkan, konteks UU ini hanya mengatur keadaan bilamana dana-dana yang dikorupsikan merupakan dana-dana yang diperuntukkan bagi penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional, kerusuhan sosial yang meluas, penganggulangan krisis ekonomi dan krisis moneter serta pengulangan tindak pidana korupsi. Jadi untuk kasus Gayus hal ini tidak terpenuhi. Walaupun suap termasuk bagian dari korupsi dan gayus beberapa kali melakukan penyuapan aparat untuk bisa berplesiran di dalam dan luar negeri tidak akan bisa dijadikan dasar yang kuat menghukum mati Gayus tambunan. Konon lagi Gayus hanya di dakwa melakukan tindakan mafia pajak dan mafia hukum yang ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara.
Dengan demikian Gayus pasti tidak akan dihukum mati. Jika demikian adanya pantaskah Gayus di penjara selama (sebut sajalah) 20 tahun? Jawabannya hukuman ini tentu saja tidak akan memuaskan publik. Ketidakpuasan itu terjadi bukan karena Gayus melakukan kejahatan yang sangat luar biasa sehingga mengakibatkan kerugian negara yang sangat fatal dan berdampak kepada kebangkrutan bangsa ini tetapi lebih dikarenakan geramnya bangsa ini melihat perilaku Gayus yang seperti tidak ada penyesalan dan mengulang-ulang kesalahan yang sama kendatipun berstatus tahanan. Korupsi yang dilakukan Gayus sebenarnya sama dengan yang dilakukan oleh koruptor lainnya, tapi Gayus menjadi beda sendiri karena ketika statusnya yang menjadi perhatian dunia, Gayus justru seenaknya saja berplesiran ke Bali, Singapura, dan Macau. Dihukum penjara berapa tahun pun Gayus bisa dipastikan tetap akan pergi kemana saja selama polisi di negeri ini belum mau intropeksi diri.
Fenomena inilah yang mengakibatkan publik pesimis, apa pun hukuman bagi Gayus tetap tidak akan berdampak jera terhadap kepribadian Gayus. Terlepas dari Gayus bisa membongkar kebobrokan aparat kepolisian yang dengan mudahnya menerima suap, apa yang dilakukan Gayus tetaplah tidak bisa dimaafkan. Karena dalam kacamata hukum pensuap dan yang di suap sama-sama dikategorikan koruptor.
Andai rakyat bangsa ini ditanya hukuman apalah yang layak bagi seorang Gayus. Mungkin kompak kita akan menjawab hukuman mati atau potong saja tangannya dan biarkanlah Gayus berkeliling dunia sepuasnya.

*penulis adalah ketua umum PB Germasi dan Presiden Mahasiswa IKOPIN Bandung

Saturday, January 8, 2011

Germasi : 
Indikator Keberhasilan Wawako Mudah ditentukan
Sabtu, 8 Januari 2011
Pelantikan Walikota dan Wakil Walikota Sibolga. Samsul Pasaribu (inzet)

SIBOLGA-METRO; Gerakan Mahasiswa Sibolga (Germasi) menyatakan bahwa Wakil Wali Kota Sibolga dinilai sosok pejabat yang paling mudah ditentukan indikator kesuksesannya selama mendampingi Wali Kota Sibolga mengatur tatanan pemerintahan di lingkungan Pemko Sibolga.
Hal itu dikemukakan Ketua Umum Germasi Samsul Pasaribu, kepada METRO, Jumat (7/1). Menurut Samsul, satu-satunya pejabat pemko yang paling mudah diukur indikator keberhasilannya sebagai orang nomor 2 di Kota Sibolga adalah Wakil Wali Kota (Wawako) Sibolga yang saat ini dijabat oleh Marudut Situmorang AP MSP. Indikator itu bisa ditentukan melihat latar belakang Wakil wali kota sebelum menjabat. “Kongkritnya, melihat Sibolga lima tahun yang akan datang cukup melihat perkembangan SDM generasi mudanya dan sejauh mana pariwisata Kota Sibolga terpublikasi dengan baik di luar, sehingga jumlah wisatawan yang masuk ke negeri berbilang kaum ini meningkat signifikan. Andai ini tidak bisa dirasakan masyarakat, maka Wakil Wali Kota Sibolga yang fungsinya mendampingi dan memberikan saran konstruktif kepada wali kota gagal dalam menjalankan peranannya,” tegasnya.

Friday, January 7, 2011

Dicari Pemimpin Ideal untuk "Ono Niha" *

oleh: Andi Josua Telaumbanua**
sekjen germasi
Salah satu bentuk demokrasi di daerah otonom adalah pemilihan kepala daerah secara langsung oleh masyarakat. Demikian halnya dengan daerah di kepulauan Nias yang dalam waktu dekat akan mengadakan pemilihan umum kepala daerah.

Kepulauan Nias yang sejak Oktober 2008 telah terbagi menjadi 5 daerah pemerintahan daerah tingkat II yang sebelumnya telah mekar menjadi 2 kini terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota, yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunungsitoli. Kelima wilayah pemerintahan itu memiliki potensi sumber daya yang perlu di kembangkan guna melaksanakan pembangunan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat.

Namun, hal tersebut hanya mungkin dilakukan oleh pemimpin yang memiliki itikad baik dalam membangun kepulauan Nias dari ketertinggalan. Ajang pilkada merupakan suatu prosesi dalam menentukan pemimpin harus jauh dari kepentingan ranah pribadi. Pilkada yang akan mulai dilaksanakan pada Februari 2011 mendatang akan menentukan maju-mundurnya kepulauan Nias.

Wednesday, January 5, 2011

Masukan Untuk Walikota Realisasikan Program Kongkrit

Rabu, 05 Januari 2011
Ketum PB Germasi
SIBOLGA-METRO; Gerakan Mahasiswa Sibolga (Germasi) meminta Wali Kota Sibolga dan kepada semua stakeholder pemerintahan di tahun 2011 ini lebih menjabarkan program kerja kepemimpinannya yang lebih kongkrit. Hal ini penting, karena Germasi menilai tanpa kejelasan arah dan tujuan Kota Sibolga lima tahun yang akan datang, masyarakat bisa punya pandangan yang berbeda-beda perihal indikator kesuksesan seorang wali kota.
Demikian disampaikan Samsul Pasaribu, Ketua Umum PB (Pengurus Besar) Germasi, kepada METRO, Selasa (4/1). Dia menuturkan, waktu lima tahun adalah kurun waktu yang tidak mungkin mewujudkan sebuah kata ‘kesejahteraan’ bagi masyarakat. “Mengingat tugas seorang kepala daerah tidak bisa disamakan dengan tugas seorang ketua organisasi. Kendati demikian, ketidakmungkinan ini bukan menjadi sebuah alasan seorang wali kota menjustifikasi segala keterlambatan dalam mewujudkan visi dan misinya,” ujarnya.
Maka, tanpa menunggu esok hari, lanjut Samsul Pasaribu, semangat Tahun Baru 2011 ini harus dijadikan wali kota sekarang untuk memulai babak baru kepemimpinannya yang menyentuh segala aspek masyarakat. Tidak hanya komunitas tertentu, namun merata di semua pranata sosial dan semua sektor pembangunan. “Kongkritnya lagi Wali Kota Sibolga harus berani menentukan target-target yang jelas dari setiap policy yang diambil.

Sunday, January 2, 2011

TERIMAKASIH FIRMAN UTINA


TERIMAKASIH FIRMAN UTINA
Oleh : Samsul Pasaribu*

Firman Utina, dkk Timnas
Pluit panjang babak kedua partai final piala AFF 2010 telah ditiup. Sang Garuda pun akhirnya mampu mengkandaskan harimau Malaya dengan skor tipis 2-1. Indonesia akhirnya menang, namun gagal sebagai juara piala AFF 2010. Dan inilah kali ke empat tim merah putih kita gagal meraih gelar juara AFF yang di helat satu kali dalam dua tahun ini. Di stadion kebanggaan bangsa ini,Gelora Bung Karno (GBK) Indonesia harus merelakan Malaysia merayakan kemenangannya.
Kini, pesta telah usai, sang juara pun telah berpesta. Beberapa hari kedepan media mungkin masih akan bercerita tentang bola. Sebahagian akan mengapresiasi kinerja timnas dan sebahagian lagi melakukan kritikan pedas akan kinerja timnas yang ujung-ujungnya akan bermuara kepada kinerja PSSI dibawah kepemimpinan Nurdin Halid.
Terlepas dari puas atau tidak puas hasil kerja Firman Utina dkk, kita telah menjadi saksi bahwa 22 orang putra bangsa ini telah mampu menghipnotis ratusan juta rakyat negeri ini untuk melupakan sesaat permasalahan bangsa dan fokus dalam satu peristiwa, sepak bola. Sebulan penuh Firman dan kawan-kawan juga telah menyuguhkan perfoman terbaiknya dilapangan hijau sehingga jutaan rakyat negeri ini selalu tersenyum disepanjang hari dari satu laga ke laga berikutnya. Firman Utina, dkk juga berhasil menggiring publik untuk tidak mempedulikan celotehan para politisi di senayan yang sudah barang tentu sarat kepentingan. Dan yang sangat penting lagi adalah, Firman Utina, dkk telah berhasil menyatukan rakyat negeri ini melalui sepak bola (setidaknya dalam satu bulan ini).